
Dua karya
seni berjudul 'Rubah Lost in Puppets' produksi Rubah dari Selatan dan 'Sosak'-nya
Malaydansstudio sudah tampil merealisasikan proposal dan konsep pertunjukannya dalam
program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia di Galeri Indonesia Kaya
(GIK), Jakarta.
Suguhan
keduanya berhasil memikat perhatian para penikmat dan pemerhati seni, termasuk
sejumlah jurnalis dan blogger yang meliput.
Rubah dari Selatan yang digawangi Ronie Udara (perkusi), Malinda (vokal), Gilang (gitar, vokal), dan Adan (kibor) menjadi kelompok seni pertama yang berhasil menjawab tantangan itu lewat sebuah pertunjukan hasil kerjasama Bakti Budaya Djarum Foundation dan Tim Garin Nugroho di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, Sabtu (3/3/2018) lalu.
Pertunjukannya menggabungkan musik kontemporer dan wayang. Mereka
memvisualkan enam karya lewat wayang dengan dalang Ki Hariyanto dan Ki
Wahono.
Penyuguh kedua bertajuk Sosak yang ditarikan Riyo Tulus Pernando sekaligus sebagai koreografernya, bersama Damri Aprizal, Panji Primayana, Agil Pramudya, dan Tedjo Riza berhasil menghadirkan pesan dari akibat kebakaran dan bencana asap di Riau lewat olah tubuh yang kaya dan ekspresif.
Penyuguh kedua bertajuk Sosak yang ditarikan Riyo Tulus Pernando sekaligus sebagai koreografernya, bersama Damri Aprizal, Panji Primayana, Agil Pramudya, dan Tedjo Riza berhasil menghadirkan pesan dari akibat kebakaran dan bencana asap di Riau lewat olah tubuh yang kaya dan ekspresif.
Menariknya, meskipun Sosak (Sesak) yang ditampilkan Minggu (4/3/2018) petang di GIK begitu kekinian, namun mereka tak melupakan muatan lokal dari daerah yang diangkat lewat ragam budaya Melayu, mulai dari Tarian Zapin, lagu, dan aransemen samapi pakaian pria Melayu terutama di sesi awal.
Berikutnya
masih ada delapan komunitas seni lagi yang bakal unjuk gigi.
Kedelapan
judul seni pertunjukan itu adalah 'Gen' produksi Bumi Bajra yang akan tampil
Sabtu (10/3), 'Baromban dan Mitos Tambang' (Indonesia Performance Syndicate) pada
Minggu (11/3), 'Pasir Purnama' (Saskirana Dance Lab) pada Sabtu (17/3), 'Dewi
Legenda Jawa Barat' (JP Art) pada Minggu (18/3), dan 'Bala’' produksi Ali Dance
Company pada Sabtu (24/3).
Gen menceritakan pewarisan terkecil di setiap benih kehidupan. Benih-benih itu disimbolkan dengan 'telur', perlambang penciptaan di Bali.
Baromba dan Mitos Tambang merupakan karya Wendy HS yang terinspirasi dari puisi karya Iyut Fitra mengenai kehidupan masyarakat di sekitaran tambang pasir di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Baromba dan Mitos Tambang merupakan karya Wendy HS yang terinspirasi dari puisi karya Iyut Fitra mengenai kehidupan masyarakat di sekitaran tambang pasir di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Pasir Purnama mengisahkan keseimbangan alam yang tak lepas dari peran manusia dan aktivitasnya.
Berbagai ritual tradisi yang tercipta turut serta mengatur pola itu. Purnama menjadi sebuah ruang interaksi dan pertemuan tradisi sebagai pengingat juga pelestari.
Berbagai ritual tradisi yang tercipta turut serta mengatur pola itu. Purnama menjadi sebuah ruang interaksi dan pertemuan tradisi sebagai pengingat juga pelestari.
Dewi Legenda Jawa Barat menceritakan tentang elemen-elemen alam yang terdiri atas air, api, Tanah, dan udara yang kini bersatu dengan segitiga berenergi dan berkekuatan dinamis untuk membentuk suatu energi kehidupan yang kuat dan positif.
Sedangkan
Bala’ mengangkat budaya masyarakat Bangka yang sangat erat dengan norma-norma
kehidupan dan adat istiadat, bukan sebagai kegiatan rutinitas ataupun hiburan
masyarakat semata melainkan memaknai lebih dalam norma tersebut kemudian merenungkan
kembali agar semuanya tetap tepat pada fungsi dan keberadaannya.
Penampil
selanjutnya karya Flying Ballons Puppet berjudul 'Natuh' pada Minggu (25/3), lalu 'King' (Maha Dance) dari Papua pada Sabtu (31/3), dan terakhir seni pertunjukan
bertajuk 'Moro a Fashion Story' produksi Kalanari Theatre Movement pada Minggu
(1/4).
Natuh adalah pertunjukan teater boneka yang terdiri atas gabungan boneka tiga dimensi yang dimainkan dua pemain boneka serta permainan bayangan.
King menderitakan tentang Burung Cendrawasi sebagai simbol Tanah Papua yang mengalami eksplotasi hingga mempengaruhi eksistensinya di masa depan.
Sementara
Moro a Fashion Story berkisah tentang
sebuah perjalanan singkat ke Pulau Morotai yang mencatat sebuah filosofi
menawan, morodina, morodaku, dan morodaki yang secara ringkas menceritakan
bahwa leluhur Suku Moro hidup serta berasal dari laut, langit, hutan, dan
permukaan Tanah.
Mereka semua akan ditampilkan di venue yang sama di GIK, Grand Indonesia West Mall, Lt.8 (samping CGV), Jl. MH Thamrin No, 1, Jakarta mulai pukul 3 sore.
Jadi totalnya ada 10 komunitas seni yang beruntung bisa tampil dalam Ruang
Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia.
Kesepuluh
kelompok tersebut terpilih dari 25 komunitas seni pertunjukan beragam genre yang
mengikuti workshop selama 3 hari di GIK pada bulan November tahun lalu.
Kemudian mereka
diberikan banyak materi mengeni seni pertunjukan di Indonesia, mulai dari
manajemen produksi sampai dengan manajeman panggung atau seni peran.
Di akhir program, perwakilan dari para kelompok mempresentasikan karya mereka di depan para panelis yang terdiri atas Bakti Budaya Djarum Foundation, Garin Nugroho, dan Nano Riantiarno hingga akhirnya terpilih 10 kelompok seni yang akan tampil di GIK sejak 3 Maret sampai dengan 1 April mendatang.
Sineas dan budayawan Garin Nugroho mengatakan saat ini banyak komunitas seni yang terus produktif berkarya sekaligus memiliki kemampuan membangun dan meregenerasi anggota komunitasnya.
“Melalui
Ruang Kreatif ini, kami berharap seniman muda Indonesia mampu bersaing dengan
seniman di dalam maupun di luar negeri,” ungkap Garin.
Sementara
Renitisari Adrian selaku Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation
menambahkan kalau Ruang Kratif sudah berjalan di GIK yang merupakan tempat
edutainment budaya selama dua tahun.
“Ruang
Kreatif ini merupakan wujud peduli GIK untuk terus mendukung komunitas seni
sekaligus menumbuhkan bakat-bakat baru kreator seni dan memungkinkan adanya
regenerasi muda dalam seni pertunjukan Indonesia,” ungkap Renitasari.
Dua karya seni kontemporer 'Rubah Lost in Puppets' garapan Rubah dari Selatan dan 'Sosak' produksi Malaydansstudio sudah membuktikan bahwa mereka tampil bukan semata mewarnai Ruang Kreatif GIK, melainkan juga menawarkan konsep apik dan pesan yang tersirat.
Sepertinya 8 kelompok seni kontemporer lainnya yang siap beraksi akan menyuguhkan sesuatu/konsep yang berbeda dan istimewa.
Seperti apa letak perbedaan konsep dan perbedaannya? Tak ada cara lain selain menyaksikan langsung di GIK Jakarta.
Foto:
adji & @indonesiaperformancesyndicate_
Captions:
1. Para penari 'Sosak' dari Malaydanssudio usai tampil dalam Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia di GIK, Jakarta.
2. Lima penari Sosak saat beraksi di GIK.
3. Baromban dan Mitos Tambang: mentoring kedua sebelum pementasan 11 Maret 2018 di GIK.
4. Indonesia Performance Syndicate (IPS) adalah komunitas seni dari Padang Panjang, Sumatera Barat yang menekankan Total Body Performance dalam setiap karyanya.
5. Sejumlah penikmat seni, wartawan, dan blogger berfoto bersama 5 penari 'Sosak', usai mereka tampil menghentak habis-habisan.
6. Salah satu penari Sosak yang ekspresif.
3. Baromban dan Mitos Tambang: mentoring kedua sebelum pementasan 11 Maret 2018 di GIK.
4. Indonesia Performance Syndicate (IPS) adalah komunitas seni dari Padang Panjang, Sumatera Barat yang menekankan Total Body Performance dalam setiap karyanya.
5. Sejumlah penikmat seni, wartawan, dan blogger berfoto bersama 5 penari 'Sosak', usai mereka tampil menghentak habis-habisan.
6. Salah satu penari Sosak yang ekspresif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar