Sabtu, 29 April 2017

Seba Baduy, Bukti Urang Kanekes Pejalan Kaki Paling Tangguh Sedunia


Kaki-kaki ini adalah fakta nyata kalau orang Baduy atau urang Kanekes adalah salah satu suku pejalan kaki tanpa alas, entah itu sandal apalagi sepatu paling tangguh sedunia.

Fakta lainnya, mereka buktikan lewat upacara Seba Baduy yang digelar setiap tahun selepas melaksanakan kewajiban puasa 3 bulan atau Kawalu.

Jarak puluhan bahkan ratusan kilometer mereka tempuh dengan berjalan kaki tanpa alas dari tiga kampung inti Baduy Dalam (Tangtu) yakni Cikeusik, Cibeo, dan Cikartawarna melewati lereng, hutan, bukit-bukit, sungai-sungai, dan kampung-kampung di Pegunungan Kendeng sebelum tiba di Kampung Baduy Luar (Panamping).

Setelah istirahat semalam di wilayah Panamping, paginya mereka baru bergabung dengan orang Panamping untuk bersama-sama melaksanakan Seba Baduy 2017, berjalan kaki sambil membawa beragam hasil bumi seperti pisang, padi, gula aren, pete dan lainnya untuk diserahkan ke kepala daerah, serta hasil kerajinan seperti tas rajutan, ikat kepala, kain tenun, dan madu untuk sekalian mereka jual.

Mereka berjalan beriringan dengan tertib dan teratur menyusuri jalan raya beraspal (tanpa alas kaki) menuju Kota Rangkasbtung untuk menemui Ibu Gede (Bupati Lebak) di Pendopo Bupati dekat Alun-Alun Rangkasbitung (bermalam 1 malam), lalu ke Pendopo Bupati Pandeglang, dan terakhir ke Pendopo Gubernur bersilaturahin dengan Bapak Gede (Gubernur Banten) di Kota Serang (juga bermalam 1 malam).

Selanjutnya dari Kota Serang keesokan paginya usai acara pelepasan, mereka kembali lagi ke kampung masing-masing di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, yang masuk wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Bayangkan, total jarak yang mereka tempuh dalam rangka Seba Baduy 2017 dari Desa Kanekes ke Kota Serang pergi-pulang berjalan kaki tanpa alas sekitar 130 kilometer lebih selama 6 hari.

Idong (29), salah satu warga Baduy Dalam yang ikut Seba Baduy 2017,   mengaku berangkat dari rumahnya di Kampung Cibeo pada  hari Kamis (27/4) pukul 4 subuh, kemudian bermalam di Kampung Baduy Luar dekat Ciboleger.

“Jum’at paginya kami berangkat bersama-sama Baduy Luar untuk Seba Baduy 2017 ke Kota Rangkasbitung. Kami sempat istrahat di tengah perjalanan selama 2 jam dan tiba di pintu masuk Kota Rangkasbitung pukul 3 sore. Satu jam kemudian sampai di Pendopo Bupati Lebak dan disambut perwakilan dari Pemerintahan Kabupaten Lebak dan masyarakatnya,” ujar Idong kepada Rona Budaya setibanya di pendopo Bupati Lebak, Jumat (28/4) dengan wajah tetap segar, tak berkeringat, dan tak menyiratkan lelah sama sekali.

“Kami sudah terbiasa jalan kaki tanpa alas sejak kecil, pokoknya sejak kami mulai bisa berjalan,” akunya.

Menurut Idong ajang Seba Baduy juga menjadi sarana latihan bagi anak-anak Baduy. Jadi jangan heran kalau peserta Seba Baduy tahun ini yang berjumlah sekitar 2.000 orang Baduy (lebih dominan Panamping) di antaranya juga anak-anak memasuki usia belasan tahun.

“Biasanya anak-anak yang ikut ditemani ayahnya, abang atau sesama teman seumuran,” terangnya.

Lantaran sejak kecil berjalan kaki tanpa alas menempuh jarak sampai ratusan kilometer, bahkan banyak di antaranya yang pergi untuk berjualan aneka kerajinan sampai ke Bogor, Depok, Tangerang, Jakarta, Bekasi, bahkan ke Cirebon hingga Bandung akhirnya turut mempengaruhi bentuk dan ukuran kakinya.

Kalau diperhatikan, bentuk telapak kaki orang Baduy agak lebih besar dan terkesan kokoh dari kebanyakan kaki orang lain pada umumnya.

Sementara postur tubuhnya hampir seluruhnya ramping-ramping lantaran tenaganya kerap terkuras untuk aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan dengan berjalan kaki tanpa alas dimanapun dan kemanapun.

“Alas kaki dan naik kendaraan jenis apapun itu pantang bagi kami, dan sudah jadi aturan hidup urang Kanekes, “terang Idong yang kerap dipanggil Ayah Arnia (Arnia itu nama buah hatinya yang masih berusia 4 tahun).

Apakah pantangan itu menyusahkannya? “Tidak, kami ikhlas melakukan dan ini jadi ciri khas dan kebanggan kami sebagai urang Kanekes,” ujarnya.

Sejumlah orang Baduy berusia muda yang Rona Budaya sebagai peserta Seba Baduy 2017 seperti Arta (22), Medi (19), dan Sadam (13) pun mengutarakan hal yang sama.

Berjalan kaki tanpa alas kemanapun mereka tuju bukanlah beban, melainkan konsekuensi sebagai orang Baduy yang dilakukan sepenuh hati.

Dan hasilnya, bukan saja membuat mereka mendapat julukan sebagai suku pejalan kaki tanpa alas paling tangguh sedunia, pun membuat keberadaan mereka kini semakin menarik perhatian bangsa lain termasuk sesama bangsanya sendiri, bangsa Indonesia.

Kenapa? Karena banyak orang (baca: wisatawan) yang menilai Baduy itu salah satu suku atau kelompok masyarakat yang unik, beda, dan setia atau patuh dengan aturan adat-istiadatnya di Indonesia bahkan di dunia, sehingga banyak yang datang ke kampung-kampung intinya untuk melihat keistimewaan/kekhasan mereka lainnya, kemudian mempelajari, menguak, dan memahaminya lebih dalam.
Salam Budaya...

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Rabu, 26 April 2017

Ciamis Sambut Bulan Suci dengan Enam Culture Event Mapag Ramadhan

Sejumlah daerah di Tanah Air, masyarakatnya punya cara masing-masing dalam menyambut kedatangan Bulan Suci Ramadhan. Begitupun dengan warga Sunda Galuh di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tahun ini masyarakatnya menggelar lima upacara adat dan satu festival berlabel Mapag Ramadhan yang  sekaligus menjadi pesta rakyat terbesar di Tatar Galuh.

Keenam culture event Mapag Ramadhan bertema Galuh Heritage yang berlangsung sepekan, 19-25 Mei 2017 ini terdiri atas Pesona Jagir Festival, Upacara Adat Misalin, Ngikis, Nyepuh, Merlawu di Gunung Susuru, dan Upacara Adat Merlawu di Gunung Padang.

Pesona Jagir Festival bakal mengawali rangkaian Mapag Ramadhan tanggal 19-20 Mei 2017 di Lapangan Desa Jayagiri, Kecamatan Panumbangan.

Festival yang diselenggarakan masyarakat Jayagiri dan sekitarnya serta Komunitas Wisata Budaya Tatar Galuh ini akan menyuguhkan beragam atraksi wisata budaya seperti Meleuem Lauk, Pesta Rakyat, Pawai Obor, Dzikir Akbar dan Manaqib Qubro, Festival Kuliner Cita Rasa Pasundan, dan Pertunjukan Seni.

Dilanjutkan dengan Upacara Adat Misalin tanggal 21 Mei  di Dusun Tunggalrahayu, Desa Cimaragas. Upacara ini diselenggarakan oleh komunitas adat Kawargian Galuh Salawe di Situs Salawe Gara Tengah, Desa Cimaragas, yang terletak sekitar 10 Km Timur dari pusat Kota Ciamis.

Dalam Bahasa Sunda, mi berarti melakukan kegiatan dan salin berarti mengganti. Jadi Misalin maknanya membersihkan diri dari segala macam perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma agama.

Tradisi tahunan ini telah dilakukan masyarakat di wilayah tersebut secara turun temurun. Pada tradisi ini, masyarakat bergotong royong membersihkan makam leluhur sekaligus berdoa di tempat tersebut untuk menyucikan diri menyambut Ramadhan.

Biasanya masyarakat mengenakan Baju Putih. Baju tersebut melambangkan kebersihan dan kejujuran yang harus dijalankan warga Sunda Galuh (Ciamis).

Berikutnya Upacara Adat Ngikis tanggal 22 Mei di Situs Karangmulyan, Desa Karangmulyan, Kecamatan Cijeungjing. Ngikis secara harfiah berarti memagar.

Pada masa lalu, ngikis lebih bersifat fisik yakni mengganti pagar bambu sekitar singgasana Prabu Galuh Ratus Pusaka Prabu Adi Mulia Sang Hyang Cipta Permana Adikisuma yang merupakan Raja Galuh.

Seiring perkembangan zaman, pagar bambu sudah diganti dengan besi. Selain itu juga lebih pada makna yang tersirat yakni upaya memagari diri dari berbagai nafsu jahat atau tidak baik saat memasuki Ramadan.

Dalam upacara ini ada iring-iringan masyarakat sekitar yang membawa dongdang atau tandu berisi aneka jenis makanan dan buah-buahan yang nantinya untuk dimakan bersama selepas Ngikis.

Kemudian Upacara Adat Nyepuh tanggal 23 Mei di Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, kaki Gunung Sawal. Upacara Nyepuh melakukan ziarah ke makam Kiai Haji Eyang Penghulu Gusti, yang terletak di tengah hutan Sukarame. Eyang Penghulu Gusti merupakan penyebar agama Islam di Ciomas.

Penghulu Gusti pulalah yang meminta warga setempat untuk selalu memperhatikan hutan dan melestarikannya.

Upacara ini merupakan puncak dari rangkaian tradisi lain yang berlangsung sehari sebelumnya, yakni tradisi mulung pangpung atau pengambilan kayu bakar dan nalekan (menanyai). Dua acara tersebut merupakan kegiatan dalam rangka memasak tiga nasi tumpeng untuk melengkapi Upacara Nyepuh keesokan harinya. Ritual memasak nasi tumpeng ini dilakukan secara gotong royong.

Biasanya suasana menjelang Upacara Nyepuh di Ciomas begitu terasa. Warga menyiapkan dan memasang bendera dan janur kuning untuk hiasan upacara. Jelang malam barisan obor menerangi sepanjang jalan desa.

Selanjutnya Upacara Adat Merlawu di Situs Gunung Susuru tanggal 24 Mei, lokasinya di Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing.

Upacara ini dimaksudkan untuk mensucikan pikiran dan lahir batin menjelang kedatangan bulan Suci Ramadhan. Biasanya dalam upacara ini ada makanan khas yang disajikan yakni Ikan Cimuntur, baik di goreng maupun dikukus.

Terakhir Upacara Adat Merlawu di Situs Gunung Padang tanggal 25 Mei 2017. Lokasinya di Desa Sukaresik, Kecamatan Cikoneng. Upacara ini sekaligus menjadi penutup rangkaian Mapag Ramadhan tahun ini.

Semua even dalam Mapag Ramadhan tersebut mendapat dukungan penuh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) lewat Bidang Promosi Wisata Budaya, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, juga Dinas Pariwisata (Dispar) dan Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis serta komunitas masyarakat setempat.

Menurut Kepala Bidang Promosi Wisata Budaya, Kemenpar, Wawan Gunawan bentuk dukungan yang diberikan Kemenpar dalam Mapag Ramadhan 2017 ini berupa bahan promosi.

“Mempromosikan dan memberikan pendampingan dalam pengemasan culture event tersebut, antara lain mendatangkan beberapa orang yang sudah piawai dalam mengemas even pariwisata seperti Budi Jermanto penggagas Dieng Cultural Event dan Nanu Muda penggerak berbagai even wisata budaya berbasis masyarakat di wilayah Jawa Barat,” terang Wawan.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & wawan ajen

Wayang di Sergai Hidup Segan Mati Tak Mau, Inilah Upaya Bupati Ir. H. Soekirman

Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara (Sumut) memiliki paguyuban wayang sejak lama. Namanya Suko Budoyo. Sayangnya karena keterbatasan SDM, krisis dalang dan sindennya, membuat wayang tersebut vakum setahun belakangan ini.

Untuk menggeliatkan kembali wayang di Sergai), Bupatinya Ir. H. Soekirman pun datang ke Jakarta, memenuhi undangan Kongres Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) 2107.

Kongres Sena Wangi ke IX itu berlangsung 2 hari di Gedung Pewayangan, Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

“Saya datang khusus untuk mengikuti Serasehan yang mengawali Kongres Sena Wangi tahun ini. Soalnya materi yang dibahas dalam sarehan ini sangat bagus, salah satunya penjelasan tentang Filsagfat Wayang,” ujar Ir. H. Soekirman kepada Rona Budaya, disela-sela Sarasahen tersebut yang berlangsung di ruang serbaguna Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta, Selasa (24/4).

Usai mengikuti Sarasehan, lanjut Soekirman esoknya, Rabu (26/4) dia akan menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2017 di Hotel Bidakara, Jakarta. “Jadi ke Jakarta ada dua acara sekaligus yang sama penting, yakni Sarasehan Wayang terkait Kongres Sena Wangi hari Selasa dan hari Rabu-nya Musrenbangnas 2017,” ungkapnya.

Khusus di Kongres Sena Wangi, sambung Soekirman, dia punya misi tersendiri terkait upayanya untuk menghidupkan dan menggeliatkan kembali wayang di Sergai.

“Di kesempatan Sarasehan Kongres Sena Wangi 2017 ini saya ingin berkeluh kesah perihal nasib pewayangan di Sergai khususnya yang boleh dibilang hidup segan mati tak mau. Termasuk nasik wayang di beberapa kabupaten di Sumut lainnya yang kebetulan penduduknya banyak orang Jawa dan memiliki grup wayang juga,” terangnya.

Dia berharap supaya lembaga tertinggi yang mengurusi wayang seperti Sena Wangi dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) di Jakarta ini mau mendengar keluhan pewayangan di Sergai khususnya.

“Kongkritnya kami berharap Sena Wangi atau Pepadi dan lainnya mau mengirimkan pengajar dalang dan sinden ke Sergai,” ungkapnya.

Menurut Soekirman di Sergai kini tinggal tersisa paguyuban wayang Suko Budoyo. Namun dua dalangnya yakni Kasno dan Nato sudah meninggal dunia karena uzur dan sakit. Sisanya tinggal satu dalang lagi bernama Mbah Jiran asal Yogjakarta, itu pun tidak bisa mendalang lagi karena sudah sepuh, 80-an tahun usianya.

Begitupun dengan sindennya, tinggal satu orang saja, dan rumahnya jauh di Medan. “Nama sindennya Ibu Yati, sudah tua juga. Kalau ke Kota Perbaungan, Sergai tempat Wayang Suko Budoyo berkumpul dan latihan yang berjarak sekitar 40-an Km dari Medan, dia tidak bisa datang. Akhirnya setahun belakangan ini Suko Budoyo vakum karena tidak ada dalang dan sindennya. Padahal banyak yang nanggap atau ngundang untuk pentas. Sekali mentas dipatok Rp 3 juta,” ungkapnya.

Sebenarnya Soekirman bisa mendalang tapi hanya sebatas dalangan lucu-lucuan, libuan atau goro-goro yang bersifat menghibur. “Saya memang bisa nge-dalang tapi cuma sebatas buat lucu-lucuan dan sudah belasan sekali tampil. Tapi untuk yang serius saya belum bisa, takut merusak pakem. Tapi anehnya banyak yang mengganggap saya pinta nge-dalang,” akunya seraya tertawa.

Upaya lainnya, Soekirman mengusulkan agar lembaga pendidikan yang ada di Jawa seperti ISI, ISBI, dan lainnya melakukan bedhol kampus dengan mengirimkan mahasisiwa/i terbaiknya terutama yang memahami karawitan, penyindenan, pewayangan, dan pendalangan ke Sumut, termasuk ke Sergai.

Selain meminta bantuan tenaga pengajar dalang dan sinden dari pusat, terutama dari Sena Wangi, Pepadi dan usulan bedhol kampus tersebut, lanjut Soekirman, pihaknya pun berusaha mencari pengajar dalang maupun sinden yang masih ada di Kabupaten Simalungun, Asahan, dan lainnya. “Kira-kira di Sumut kini tinggal 10 grup wayang kulit yang tersisa,” terangnya.

Soekirman pun menjelaskan mengapa di Sumut termasuk di Sergai bisa ada paguyuban wayang. Menurutnya di Sergai mayoritas penduduknya Jawa sekitar 35 persen, Batak 25 % persen sisanya Melayu dan lainnya.

“Orang Jawa sudah ada di Sergai sejak 1.800 an. Kemudian muncullah kesenian wayang sampai sekarang. Cuma kondisinya sekarang inni memprihatinkan terutama kendala keterbatasan SDM, kritis dalang dan sindennya,” akunya.

Kenapa orang Jawa bisa ada di Sergai? Kata Soekirman, luas kabupaten Sergai 190 ribu hektar, sekitar 100 ribu hektar itu perkebunan karet dan kelapa sawit.

“Perkebunan dibuka tahun 1900-an oleh Belanda, masuklah orang Jawa yang dibawa oleh Belanda sebagai tenaga kontrak perkebunan untuk membangun rel kereta api dan membuka perkebunan. Kebanyakan didatangkan Belanda dari Purworejo, Purwokerto, dan Banyumas serta Wonogiri dan Trenggalek,” terangnya.

Sejak itulah orang Jawa tinggal dan berkembang sampai sekarang di Sergai dan sejumlah kabupaten lain di Sumut. Seiring dengan pertumbuhan masyarakat Jawa di Sergai, hiduplah kesenian wayangnya.

Namun sebagai bupati, lanjut Soekirman, meskipun berdarah orang Jawa, dia tetap mengembangkan semua jenis kebudayaan suku-suku yang ada di Sergai, termasuk kesenian Batak, Melayu, Minang, dan lainnya.

“Saya juga melestarikan budaya Batak, kita buat Kerabat atau Kerukunan Rakyat Batak dengan melestarikan tarian Tortor dan lainnya. Tahun 2015 Sergai mendapat juara pertama lomba Tari Batak Fakfak tingkat Nasional di TMII, Jakarta. Kalau Melayu, tarian Serampang Duabelas itu berasal dari Sergai. Tanggal 22 April kemarin kita baru buat pergelaran Tari Serampang Duabelas di Sergai,” ungkap Soekirman yang sepak terjangnya di bidang budaya membuatnya diangkat sebagai Bapak Budaya Sergai oleh para pegiat seni dan budaya setempat.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Bupati Sergai Ir. H. Soekirman meluangkan waktu melihat pameran wayang di sela-sela Sarasehan yang digelar dalam rangka menyemarakkan Kongres Sena Wangi IX-2107 di Jakarta.
2. Suasana Sarasehan Filsafat Wayang yang digelar dalam Kongres Sena Wangi 2017 di Jakarta.
3. Buku Onderneming Van Sergai karangan Bupati Sergai Ir. H. Soekirman.

Selasa, 25 April 2017

Buku Karangan Solichin Mendominasi Pameran Wayang “Robotik” Kongres Sena Wangi 2017

Kongres Sena Wangi IX yang berlangsung 2 hari di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta Timur, 25-26 April 2017 juga diramaikan dengan Pameran Wayang bertajuk “Robotik” menampilkan beragam rupa, buku wayang, lukisan, dan foto wayang. Dari buku yang dipamerkan, buku-buku wayang karangan Drs. H. Solichin terlihat mendominasi.

Di lokasi pameran, tepatnya di teater terbuka Gedung Pewayangan Kautaman, buku-buku wayang yang dipamerkan, ditempatkan dalam satu meja.

Sejumlah buku disusun cukup rapih, ada yang diletakkan bertumpuk (khusus buku-buku berukuran kecil), berdiri (terutama buku berukuran besar dan tebal), dan ada pula yang sengaja dibuka salah satu buku tentang wayang agar pengunjung bisa melihat isi buku tersebut.

Tapi sayangnya tidak ada seorang pun petugas yang menjaga/menunggui buku-buku itu, jadi pengunjung yang datang tidak tahu apakah buku itu dijual dan berapa harganya.

Buku-buku wayang karangan Solichin yang dipamerkan ada yang ditulis sendiri dan ada pula yang dibuat berdua (berduet) dan tak sedikit yang ditulis secara keroyokan, bersama (tim) dengan beberapa penulis lainnya.

Buku yang ditulis sendiri oleh pakar pewayangan Indonesia yang sudah sepuh ini antara lain berjudul Tokoh Wayang Terkemuka.

Buku berukuran besar dan cukup tebal itu terkesan eksklusif lantaran sampulnya hard cover berwarna coklat dengan sampul depan bergambarkan salah satu karakter wayang kulit tersohor.

Di atas sudut kanan buku tersebut ada logo dan tulisan mandiri (sepertinya nama sebuah bank terkenal dalam negeri). Sedangkan di sudut kiri bawah bertulisan nama si pengarang, Solichin.

Selain itu ada buku berjudul Gatra Wayang Indonesia yang juga berukuran besar dan tebal serta juga terkesan eksklusif.

Sementara buku-buku berukuran kecil karya Ketua Dewan Kebijakan Sena Wangi ini antara lain berjudul Falsafah Wayang. Warna sampul depannya coklat dengan gambar salah satu karakter wayang kulit juga.

Buku karya Solichin berduet dengan penulis lain seperti dengan Dr. Suyanto berjudul Pendidikan Budi Pekerti dalam Pertunjukan Wayang. Buku setebal 262 halaman dengan sampul muka bergambar wayang kulit berwarna hitam putih dan berwarna ini diterbitkan oleh Yayasan Sena Wangi, Desember 2011.

Selain itu ada Buku berjudul Mengenal Tokoh Wayang, Jilid Satu s/d Empat yang dikarang Solichin bersama penulis Ki Waluyo.

Sedangkan buku-bukunya yang dibuat oleh mantan Ketua Umum Sena Wangi ini dengan beberapa penulis lainnya antara lain berjudul Ensiklopedi Wayang Indonesia.

Buku berukuran besar dan tebal tersebut sudah ada beberapa edisi mulai dari edisi A, lalu B-C, dan edisi D-E-F. Semuanya terlihat eksklusif dengan hard cover berwarna hitam, bergambar muka berbeda-beda wayang, ada karakkter wayang kulit, ada pula karakter wayang golek.

Jumlah buku yang dipamerkan boleh dibilang sedikit tak sampai ratusan. Dan penulis bukunya pun kebanyakan karya Solichin. Ini membuktikan kalau buku tentang Wayang Indonesia masih terbatas jumlahnya dan penulisnya.

Berdasarkan pantauan Rona Budaya, hampir semua buku yang dipamerkan, sepertinya untuk konsumsi orang dewasa. Boleh dibilang tidak ada buku wayang buat bacaan untuk kalangan pelajar tingkat SD-SMA, apalagi buku wayang yang ditujukan buat anak-anak pra SD.

Mungkin saja di luar sana sudah ada buku-buku wayang khusus anak-anak yang lebih menonjolkan gambar untuk memperkenalkan aneka tokoh karakter wayang kepada anak-anak dilengkapi dengan menggambar wayang, namun tidak ikut dipamerkan? Atau memang tidak ada sama sekali? Entahlah.

Jika memang tidak ada, sudah sepatutnya para penulis buku yang tertarik dengan dunia wayang untuk membuat karya buku khusus bacaan anak-anak dengan tampilan menarik dan kreatif hingga menggugah anak-anak tertarik memiliki dan membacanya.

Itu merupakan salah satu cara memperkenalkan Wayang Indonesia kepada generasi muda Indonesia sejak dini.

Cara simple tapi kreatif lainnya, mengadakan lomba menggambar karakter wayang, kemudian hasil karya para pemenang dan finalisnya dibukukan dengan kemasan yang sesuai dengan usia anak-anak.

Selain buku, Pameran Wayang ”Robotik” ini juga memamerkan sejumlah wayang kulit yang ditempel di wadah triplek yang ditutupi kain berwarna hitam. Kebanyakan wayang kulit yang dipamerkan itu koleksi Kondang Sutrisno.

Dan yang bikin pertanyaan lagi, kenapa cuma wayang kulit yang dipamerkan, sementara jenis wayang lain seperti wayang golek tidak ada satupun yang ditampilkan?

Beberapa lukisan tentang wayang juga dipamerkan. Semuanya terpampang dalam bingkai, ada yang berukuran besar, sedang, dan kecil.

Sejumlah foto pementasan Wayang Orang (WO) juga dipasang dalam bingkai namun ukurannya relatif kecil-kecil, ukuran Jumbo. Foto-foto tersebut diletakkan dekat meja pameran buku.

Yang menarik ada beberapa karya gambar seni wayang kekinian atau wayang digital buatan seniman muda berusia 15 tahun Rafif Satrio Mulyaputra. Beberapa koleksi gambar wayangnya dipajang dekat dengan meja pameran buku dan foto-foto WO.

Pameran wayang bertema ‘Robotik” berlangsung sampai Rabu (26/4). Dari hasil pengamatan Rona Budaya, ke depan pameran serupa entah itu dalam rangka menyemarakkan Kongres Sena Wangi berikutnya atau even lain terkait wayang, usahakan harus tampil lebih siap dan menarik lagi.

Koleksi buku wayang yang ditampilkan pun harus lebih banyak dan beragam, bukan hanya dari kalangan Sena Wangi sendiri pun penulis dari kalangan lain, termasuk dari luar Jawa kalau memang ada. Begitupun dengan koleksi rupa wayangnya, baik itu jenis wayang, lukisan, dan lainnya.

Tak kalah penting, tempat pamerannya. Kalau memang tujuan pameran wayang itu untuk memperkenalkan wayang kepada masyarakat luas terlebih generasi muda sejak dini, sebaiknya lokasinya di tempat umum yang strategis.

Tak ketinggalan dikemas menarik dengan kombinasi bermacam kegiatan inovatif seperti workshop menjadi dalang, mengambar karakter wayang, dan lainnya.

Promosi pre event pameran wayang yang akan dilaksanakan pun harus gencar dari jauh-jauh hari, baik secara online maupun offline supaya masyarakat luas tahu lokasi dan waktu pelaksanaan pamerannya.

Intinya jangan miskin promosi dan publikasi, apalagi pameran wayang termasuk  culture event yang banyak manfaatnya buat generasi muda kini ditengah derasnya pengaruh bermacam budaya lain.

Salam budaya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Memahami Filsafat Wayang di Kongres Sena Wangi IX

Falsafah merupakan isi dan kekuatan utama dalam pertunjukan wayang. Wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan. Maka dari pagelaran wayang dapat disusun ‘ilmu’ tersendiri yaitu Filsafat Wayang lengkap dengan objek, metode, system, substansi, dan aplikasinya.

Begitu inti pengantar Filsafat Wayang yang disampaikan pakar pewayangan Indonesia Drs. H. Solichin di Sarasehan Filsafat Wayang yang menjadi salah satu rangkaian acara Kongres Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) IX tahun 2017 di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta Timur, Selasa (25/4).

Dalam menyusun Filsafat Wayang, lanjut Solichin penting untuk menempatkan posisi wayang itu dalam kerangka pemikiran fisafat. “Filsafat Wayang sebagai pemikiran dunia Timur mementingkan harmoni. Sedangkan pemikiran barat cenderung mengabaikan harmoni,” terang Solichin yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Kebijakan Sena Wangi.

Lebih lanjut penulis sejumlah buku tentang wayang ini menjelaskan bahwa pemikiran Barat memperoleh pengetahuan teknoligis yang sering menjauh dari kesejatian realitas, sementara Timur mencapai pengetahuan yang lebih ke lapis fenemologis sebagai jalan menggapai pengetahuan sejati.

“Pengetahuan dan filsafat Timur secara epistemologi bukan saja mampu berpikir logis dan dialektis, melainkan juga berpikir simbolik,” tambahnya.

Objek kajian Filsafat Wayang atau objek majeri kajiannya adalah pergelaran wayang itu sendiri. “Tidak saja tokoh dan cerita atau lakon wayang itu sendiri. Pergelaran wayang sebagai objek kajian itu harus utuh, tidak dapat dipisah-pisahkan, baik menyangkut “wadah” strukturnya maupau “isi” berupa adegan-adegan, karawitan, dan lainnya,” terangnya.

Menurut Solichin dalam penyusun Filsafat Wayang ada 3 tahap yang harus dilakukan yakni menyusun asfek falsafah atau pandangan hidup yang secara implisi ada dalam pergelaran wayang. “Dalam pengertian ini Filsafat Wayang dipandang sebagai pandangan hidup yang berisi ajaran-ajaran tentang kebaikan,” terangnya.

Berikutnya menyusun aspek falsafah menjadi filsafat sistematis. “Dalam pengertian ini Filsafat Wayang mempunyai kepentingan akademik yaitu Fislsafat Wayang sebagai sebuah “ilmu”,” terangnya lagi.

Dan yang ketiga menyusun filsafat kritis/kreatif sebagai filsafat yang bersifat kritis dan memanfaatkannya untuk kepentingan pragmatis dalam kehidupan sehari-hari, pribadi, masyarakat, negara serta kepentingan praktis lainnya.

“Jadi objek penyusunan Fisafat Wayang itu adalah pergelaran wayang. Tiga ilmu itu dapat diketemukan disitu yaitu ilmu filsafat, ilmu pedalangan, dan ilmu tasawuf,” ungkapnya.

Tiga tahap tersebut, lanjut Solichin menjadi sangat penting dalam rangka penyusunan Filsafat Wayang. “Dari pemikiran yang bersifat ajaran, lalu disistematisasikan sehingga menjadi ilmu dan pada akhirnya mempunya daya guna,” terangnya.

Mengapa Sena Wangi menginginkan Filsafat Wayang? Karena menurut Solichin sangat bermanfaat bagi Sena Wangi dalam upaya pelestarian dan pengembangan Wayang Indonesia. “Juga bermanfatat bagi pengembangan Filsafat Nusantara sebagai salah satu khasanah pemikiran Timur dan pengembangan ilmu pengetahuan serta mendorong penguasaan iptek,” pungkasnya.

Menurutnya lagi kalau Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju kuasai filsafat. “Globalisasi itu adalah konsep dari Barat. Kalau bangsa Indonesia yang maju maka kuasai filsafat wayang dan Iptek lalu kuasai peradaban,” terangnya.

Filsafat itu membangun peradaban, bangsa yang maju menguasai ilmu dan iptek. “Ilmu filsafat menjadi popular melahirkan ilmu pengetahuan yang menguasai iptek,” pungkas Solichin.

Selain Solichin ada 3 nara sumber lainnya yang hadir di sesi Penjelasan Filsafat Wayang yaitu Dr. Sri Teddy Rusdy, SH., M.Hum yang menyampaikan makalah berjuduk Semiotika dan Epistemologi Wayang, Prof. Dr. Joko Siswanto (Metafisika Wayang), dan Prof. Dr. Kasidi Hadiprayitno, M.Hum tentang Aksiologi Wayang.

Menurut Sri Teddy dalam wayang ada banyak tanda. “Wayang adalah dunia simbol, maka itu ada semiotika dan epistemologi,” akunya. Ada 3 wilayah semiotika wayang, lanjut Sri Teddy yakni lakon, peralatan dan wayang, serta struktur pergelaran wayang.

“Kalau Epistemologi wayang adalah bahwa wayang adalah bagian dan budaya Jawa. Berbicara wayang tidak terlepaskan dari budaya Jawa,” terang Sri Teddy yang kini menjabat sebagai salah satu Ketua Sena Wangi.

Sementara Prof. Joko Siswanto mengatakan obyek material wayang itu memang pergelaran wayang dan obyek formalnya adalah filsafat wayang.

“Sudut pandangnya adalah filsafat Barat. Mengapa? karena metode yang mapan adalah filsafat Barat. Kalau kita berbicara masalah aksiologi, epistemologi, dan estetika itu adalah Barat. Kalau kita memakai teori hermenuika itu sebagai teks, siapakah yang menentukan makna teks itu. Sebab banyak tulisan tentang wayang tetapi dalam dimensi mistisnya,” ungkap Joko yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Pakar Sena Wangi.

Terakhir Prof. Kasidi menjelaskan Aksologi Wayang itu membahas tentang hakikat nilai sebagaimana tersirat dalam pergelaran wayang.

“Aksiologi wayang ini mengupas arti, sifat, klasifikasi, status metafisis dan hierarki nilai, termasuk tentang estetika dan etika wayang. Dengan kata lain berusaha untuk dicarikan jawabannya di dalam pergelaran wayang,” terang Anggota Dewan Kebijakan Sena Wangi ini.

Selain Sarasehan Filsafat Wayang, Kongres Sena Wangi yang diikuti para sesepuh hingga anggota Sena Wangi seperti organisasi pewayangan antara lain PEPADI Pusat dan PEWANGI, Lembaga Pendidikan Pewayangan baik formal maupun non formal, dan lainnya, kali ini juga disemarakkan dengan pameran Wayang “Robotik” (rupa wayang, buku-buku wayang, dan foto-foto wayang) serta pergelaran Wayang Orang Sriwedari.

Kongres Sena Wangi IX berlangsung 2 hari. Hari terakhir, besok, Rabu (26/4) di tempat yang sama, acara intinya Peresmian Pembukaan Kongres Sena Wangi IX, Pemilihan Ketua Umum Sena Wangi masa bakti 2017-2022, dan penutupan kongres dengan pembacaan Deklarasi Kongres Sena Wangi IX serta sambutan penutupan oleh Ketua Umum Senawangi yang baru.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Senin, 24 April 2017

Nganggung, Tradisi Warga Bangka Belitung yang Tak Lekang Zaman

Perayaan Isra’ dan Mi’raj di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) punya pesona tersendiri dibanding daerah lain. Pasalnya di sejumlah tempat, termasuk di Kota Pangkalpinang, masyarakat Babel menggelar Nganggung.

Tradisi turun-temurun ini menunjukkan rasa solidaritas, kepedulian, gotong royong, kekeluargaan, dan silaturrahim antar-anggota masyarakat di Negeri Serumpun Sebalai ini.

Nganggung merupakan kegiatan masyarakat Babel yang dilakukan secara bersama-sama dengan membawa  aneka makanan dari rumah masing-masing, dengan menggunakan dulang dari kuningan  yang ditutup dengan tudung saji berwarah cerah, biasanya merah.

Makanan yang dibawa antara lain nasi berikut lauk-pauknya,  bermacam kue tradisional, dan buah-buahan yang diletakkan dalam piring. Jenis makanannya sesuai dengan status dan kemampuan keluarga tersebut.

Di Kota Pangkalpinang, tradisi ini sering juga disebut dengan adat Sepintu Sedulang. Tradisi ini biasanya dilakukan pada upacara upacara keagamaan, seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Mauludan, Nisfu Sya’ban,  Muharaman, serta perayaan Isra’ dan Mi’raj.

Lokasinya biasanya di masjid, sementara kalau Nganggung Akbar di Kota Pangkalpinang biasanya digelar  di Rumah Dinas Walikota setelah dilaksanakan Pawai Taaruf.

Di Pangkalpinang, tradisi ini kerap dilaksanakan di Desa Tuatunu yang dikenal dengan julukan desa 'Serambi Mekkah' karena nuansa Islam-nya masih sangat kental. Lokasi lainnya di Pangkalbalam arah ke pelabuhan.

Biasanya yang menyiapkan aneka makanan di dalam dulang itu kaum ibu dibantu para gadis, sedangkan yang membawa dulang berisi aneka makanan itu adalah kaum laki-laki ke masjid.

Setibanya di masjid, dulang-dulang dijejer dengan rapi di lantai dalam dan luar masjid. Para jamaah kemudian duduk bersila di depan dulangnya masing-masing.

Acara kemudian dimulai dengan pembacaan doa dan shalawat nabi, setelah itu imam masjid mempersilahkan para jamaah menyantap hidangan dalam dulang tersbut.

Waktu pelaksanaan Nganggung tidak sama antara satu desa dengan desa yang lain. Ada yang menggelarnya pagi pukul 7, jelang siang pukul 10, ba’da Zuhur pukul 1 siang, dan ba’da Ashar atau pukul 4 sore.

Lokasinyapun tak melulu masjid atau surau, bisa juga di rumah adat atau di balai adat.

Biasanya tradisi ini dimulai dengan siraman rohani berupa pengajian dan ceramah keagamaan. Kadang diselipkan dengan beberapa pengumuman penting, lalu dilanjutkan dengan do’a bersama.

Acara kemudian ditutup dengan makan bersama  sambil saling bersilaturrahim antar anggota masyarakat, sahabat, dan kerabat.

Tradisi Nganggung pun tak melulu digelar untuk menyambut dan merayakan hari-hari besar keagamaan seperti tersebut di ata. Pun untuk menyambut tamu kehormatan seperti gubernur, walikota, bupati, walikota, dan tamu spesial lainnya.

Tradisi ini juga kadang dilaksanakan 7 hari setelah masa berkabung atas meninggalnya salah satu warga. Biasanya dilakukan setelah melaksanakan ritual tahlilan.

Lantaran itu, Nganggung di Babel tetap terjaga keberadaannya dari generasi ke generasi, tak lekang diterjang zaman.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Foto: @kemenpar & babelprov.go.id

Minggu, 23 April 2017

Wayang Orang Sriwedari Bakal Semarakkan Kongres Sena Wangi 2017

Sejumlah acara budaya dipastikan akan menyemarakkan Kongres Sena Wangi 2017 yang berlangsung selama 2 hari, tanggal 25-26 April ini, salah satunya pementasan Wayang Orang (WO) Sriwedari dari Solo, Jawa Tengah.

Humas Kongres Sena Wangi 2017, Eddie Karsito dalam undangan terkait peliputan kongres Sena Wangi ke-IX tersebut yang dikirm via WA ke WAG Silaturahmin Forwan (Forum Wartawan Hiburan), Minggu (23/4/2017) menjelaskan pementasan WO Sriwedari akan berlangsung di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta, hari Selasa (25/4) malam, mulai pukul 20.00 – 23.00 WIB.

“Lakon yang dimainkan berjudul Mintaraga,” terang pria yang betah berambut panjang lalu dikepang sampai saat ini.

Menurut Eddie WO Sriwedari merupakan sebuah grup kesenian tradisi paling fenomenal, yang kini usianya menginjak 107 tahun. “Walau terimbas oleh dinamika zaman, namun grup kesenian ini tetap eksis menjaga marwah dan kegemilangannya,” terang wartawan hiburan dan budaya yang juga merambah dunia sinetron dan film ini.

Pemetasan WO Sriwedari di Kongres Sena Wangi tahun ini, sambung Eddie disutradari Agus Prasetyo S.Sn dan Eny Sulistyowati S.Pd sebagai produser.

Pelakon utamanya antara lain Agus Prasetyo S.Sn sebagai Ciptoning, Wasi, Bantolo S.Sn (Kiratarupa), Eny Sulistyowati S.Pd , MM (Batari Supraba), dan Heru Purwanto S.Sn sebagai Batara Guru.

Lakon “Mintaraga” mengisahkan tentang perjalanan Arjuna ketika menjadi pertapa bernama ‘Ciptoning’ (Mintaraga).

Dalam pertapaan, Arjuna banyak menghadapi berbagai ujian dan cobaan oleh Dewa. Hal ini untuk menguji seberapa besar keteguhan hatinya.

Di antara cobaan tersebut, adalah munculnya Bidadari Batara Indra yang menyamar sebagai Resi Padya, hingga hadirnya Batara Guru. Namun keduanya ternyata tak mampu menggoyahkan tekad Arjuna.

Keteguhan inilah yang kemudian mendorong Dewa untuk memilih Arjuna menjadi seorang Kesatria sebagai alat Dewa untuk menumpas keangkaramurkaan; dalam hal ini Niwatakawaca, Raja Raksasa yang berani melawan kodrat -- dengan ingin mempersunting Dewi Supraba.

Dengan tugas ini, Arjuna mendapat julukan Jagoning Dewa. Berbekal pusaka panah Pasopati pemberian Dewa dan Supraba sebagai pendampingnya, Arjuna dapat menumpas Niwatakawaca.

Sebagai imbalan atas jasanya terhadap Dewa, Arjuna diangkat menjadi Raja di Kahyangan Warukandabinangun, dengan julukan Prabu Karitri. Arjuna kemudian dianugerahi istri Sekethi Kurang Sawiji.

Sehari sebelum pementasan, lanjut Eddie ada pelatihan umum menjelang pelaksanaan atau gladi kotor dan gladi bersih pada hari Senin (24/4) pukul 10.00 – 16.00 dan pukul 19.00 – 22.00 WIB.

Tak cuma pementasan WO Sriwedari, Kongres Sena Wangi 2017 juga akan disemarakkan dengan kegiatan beraroma budaya lainnya seperti launching logo baru Triardhika Production pada Senin (24/4) pukul 13.00 – 14.00 WIB.

Kemudian hari Selasa (25/4) pukul 08.00 – 20.00 WIB ada Pameran Wayang Robotik dan Pameran ‘Buku dan Foto Wayang.”

Sejumlah buku yang akan dipamerkan antara lain beberapa buku yang diterbitkan SENA WANGI di antaranya buku ‘Filsafat Wayang Sistematis’, ‘Pendidikan Budi Pekerti dalam Pertunjukan Wayang’, ‘Cakrawala Wayang Indonesia’, ‘The Heritage of Asean Puppetry’, dan buku ‘Ensiklopedi Wayang Indonesia’ yang terdiri dari sembilan jilid.

Pada hari yang sama Selasa (25/4) pukul 09.00 – 13.00 WIB juga ada acara “Sarasehan” dengan menyuguhkan 3 materi pokok yakni Pengukuhan Filsafat Wayang, Pelaksanaan Pancasila dengan Pendekatan Filsafati, dan Sosialisasi Budi Pekerti/Pandangan Nation and Character Building.

Hari terakhir kongres, Rabu (26/4) pukul 09.00 – 10.00 WIB akan digelar Peresmian Pembukaan Kongres IX Sena Wangi 2017.

Acara tersebut akan dihadiri antara lain Mendikbud Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI), Ketua Presidium APA (ASEAN Puppetry Association), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI Demisioner), para Sesepuh, Dewan Kehormatan, Dewan Kebijakan, dan Dewan Pakar Sena Wangi.

Sore harinya, pukul 17.00-19.00 WIB Pengumuman Ketua Umum Terpilih Sena wangi masa bakti 2017-2022 sekaligus Pembacaan Deklarasi Kongres IX Sena Wangi.

“Semua acara Kongres Sena Wangi 2017 akan bertempat di Gedung Pewayangan Kautaman, Belakang Masjid At-Tiin, Jakarta Timur,” pungkas Eddie.

Naskah: adji kurniawan (kembartropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. triardhika production & adji

Captions:
1. Pemain pri utama Wayang Orang (WO) Sriwedari. (foto: triardhika)
2. Penampilan WO Sriwedari di Geung Sriwedari, Surakarta, Solo (foto: adji k.)
3. Para penari perempuan WO Sriwedari (triardhika)
4. Para pemain utama WO Sriwideari usai pentas (triardhika)